1.
Judul jurnal yang saya ambil untuk di review:
a. INTERAKSI KEKUATAN LENTUR DAN BERAT VOLUME PELAT
BETON RINGAN TUMPUAN SEDERHANA BERTULANGAN BAMBU (JURNAL 1)
b. PENGARUH VARIASI SEMEN PASIR AGREGAT SERTA
VARIASI PENAMBAHAN SERAT BAMBU PADA CAMPURAN BETON TERHADAP KUAT TEKAN BETON
RINGAN (JURNAL 2)
2.
Alasan mereview 3 jurnal tersebut:
a.
Saya tertarik dengan struktur, maka dari itu
saya mengambil jurnal dengan judul tersebut
b.
Saya mereview jurnal yang digunakan untuk
meneliti hal yang bersifat empiris
c.
Permasalahan jurnal yang saya review didukung
dengan data
d.
Perumusan masalah jurnal yang saya review jelas
dan variabel yang akan diteliti tampak
e.
Kesimpulan jurnal yang saya review dapat diuji
oleh siapapun
3.
Abstrak dari ketiga jurnal yang akan saya review:
a.
INTERAKSI KEKUATAN LENTUR DAN BERAT VOLUME PELAT
BETON RINGAN TUMPUAN SEDERHANA BERTULANGAN BAMBU:
Perkembangan Ilmu dalam bidang Kontruksi pada masa
sekarang di indonesia begitu pesat .salah satu teknologi beton yang berkembang
dalam usaha pembuatan rumah tahan gempa adalah penggunaan beton
ringan.Mengingat bahwa Sumber daya Alam yang sudah mulai susah di daur ulang
mulai dikembangkan tulangan pengganti baja dengan menggunakan Bambu sebagai
tulangan ,adapun pemanfaatan limbah bambu seperti penggunaan Serat bambu
sebagai filler pada beton.
Tugas akhir ini membahas mengenai Pengaruh Komposisi
Semen dan Agregat kasar Batu Apung Terhadap Kuat Lentur Balok Beton Bertulang
Bambu dengan Campuran Serat Bambu. Dalam penelitian ini elemen yang digunakan
adalah balok berukuran 20 cm x 15 cm x 160 cm .Penentuan komposisi semen dan
agregat pada penelitian ini menjadi pembahasan dalam pengujian balok.Penelitian
ini menggunakan metode eksperimen dengan total 12 benda uji dengan 4 rancangan
benda uji. Benda uji dibuat berdasarkan perhitungan sampel dengan percobaan
faktorial sebagian.masing masing benda uji yaitu serat bambu 40 gram komposisi
semen agregat 1:2:1 rasio tulangan 1% , serat bambu 40 gram komposisi semen dan
agregat 1:2,5:1,5 rasio tulangan 1,5%, serat bambu 150 gram komposisi semen dan
agregat 1:2:1 rasio tulangan 1,5% dan serat bambu 150 gram komposisi semen dan
agregat 1:2,5:1,5 rasio tulangan 1% .
Hasil pengujian menunjukan bahwa kekakuan komposisi
tinggi 1:2:1 lebih kaku dan kuat menahan beban sehingga lendutan yang
didapatkan lebih kecil dibandingkan dengan komposisi 1:2,5:1,5 .Namun pada
penelitian ini mengalami perbedaan antara uji coba dengan teori yang ada .
Salah satu penyebabnya adalah ketidak kompak nya antara bambu dan beton,
sehingga daya lekat bambu terhadap beton kurang.Pada perhitungan statistik uji
anova satu arah diketahui bahwa belum ada pengaruh komposisi semen dan agregat
pada beton bertulang bambu dengan serat.
b.
PENGARUH VARIASI SEMEN PASIR AGREGAT SERTA
VARIASI PENAMBAHAN SERAT BAMBU PADA CAMPURAN BETON TERHADAP KUAT TEKAN BETON
RINGAN:
Beton merupakan material konstruksi yang terdiri dari
campuran semen, agregat halus, agregat kasar, dan air. Beton memiliki kerugian
salah satunya berat sendiri dari beton yang besar. Pengurangan masa jenis beton
adalah salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi berat sendiri
beton konvensional salah satunya dengan menggunakan batu apung (pumice) untuk
menggantikan batu pecah.
Kerugian lain dari beton konvensional yaitu kuat tarik
yang rendah sehingga mudah retak. Upaya yang dilakukan untuk meminimalisir
keretakan pada beton akibat adanya gaya yang bekerja salah satunya yaitu dengan
menambahkan serat pada campuran beton ringan. Pada penelitian ini, dengan
dilakukan peninjauan terhadap perbandingan semen, pasir, dan batu apung yang
beragam (yaitu : 1:1,9:0,75; 1:2:0,75; dan 1:2,1:0,75) serta prosentase serat
bambu yang beragam (1%, 1,2%, dan 1,4% dari berat semen) akan diteliti
bagaimana pengaruhnya terhadap kuat tekan beton ringan. Dari hasil penelitian
ini didapatkan hasil kuat tekan yang menunjukkan bahwa penambahan serat bambu
meningkatkan kuat tekan namun tidak signifikan.
Pada perbandingan 1:2,1:0,75 prosentase peningkatan
kuat tekan dari kandungan serat bambu 1% ke 1,2% sebesar 2,84%. Sedangkan
prosentase peningkatan kuat tekan dari kandungan serat bambu 1,2% ke 1,4%,
sebesar 3,13%. Sementara pada perbandingan 1:1,9:0,75 prosentase peningkatan
kuat dari kandungan serat bambu 1% ke 1,2% sebesar 8,77%. Sedangkan prosentase
peningkatan kuat dari kandungan serat bambu 1,2% ke 1,4% sebesar 7,74%. Namun
pada perbandingan 1:2:0,75 terjadi penurunan kuat tekan pada penambahan serat
1,4%, hal ini dikarenakan pada saat pengecoran dengan serat 1,4% nilai slump
yang diperoleh lebih tinggi daripada saat pengecoran dengan serat 1% dan 1,2%.
Sementara pada variasi perbandingan semen:pasir:agregat
terdapat pengaruh terhadap kuat tekannya, meskipun pada perbandingan 1:2:0,75
terdapat penurunan kuat tekan yang disebabkan karena kesalahan teknis pada saat
proses pengecoran.
c.
PENGARUH MUTU BETON TERHADAP KUAT LENTUR BALOK
BETON BERTULANGAN BAMBU DENGAN KAIT:
Beton bertulang merupakan material konstruksi yang
digunakan dalam hampir semua bangunan. Tulangan yang digunakan pada beton
berfungsi untuk menahan tegangan tarik. Satu alternatif tulangan untuk beton
yang jumlahnya akan selalu terbaharui adalah bambu. Meskipun bambu memilliki
tegangan tarik yang tinggi namun tegangan lekat antara beton dan tulangan bambu
masih rendah sehingga kapasitas beban yang dapat ditahan oleh beton bertulangan
bambu masih rendah.
Maka pada penelitian ini tulangan bambu diberi kait
untuk meningkatkan kapasitas beban maksimum. Penelitian ini membahas tentang
pengaruh mutu beton terhadap kuat lentur balok beton bertulangan bambu dengan
kait. Variasi mutu beton yang dibuat adalah 20 MPa dan 30 MPa. Benda uji pull
out berukuran 15x25x30 cm sebanyak 16 buah untuk menguji kuat lekat tulangan
bambu dengan kait dan balok berukuran 18x28x160 cm sebanyak 24 buah untuk
menguji kuat lentur balok. penelitian ini menggunakan metode analisis varian
multi ragam (anova) rancangan setengah faktorial untuk menghemat tenaga, biaya
dan waktu. Hasil penelitian menunjukkan nilai rata-rata kuat lekat beton bertulangan
bambu dengan kait untuk mutu beton rendah sebesar 0,383 MPa, sedangkan untuk
mutu beton tinggi sebesar 0,379 MPa.
Uji statistik dengan metode anova menunjukkan pengaruh
mutu beton terhadap kuat lekat belum dapat terlihat. Beban maksimum rata-rata
balok untuk mutu beton rendah sebesar 7016,67 kg dan untuk mutu beton tinggi
adalah 6187,5 kg. Uji statistik dengan metode anova rancangan setengah
faktorial menunjukkan terdapat pengaruh antara mutu beton dan kuat lentur.
4.
Tahap-tahap penelitian:
1. Tahap Perencanaan.
1.1. Penentuan Judul
1.2. Latar Belakang Masalah
1.3. Perumusan Masalah
1.4. Penentuan Batasan Masalah
1.5. Tujuan dan Manfaat Penelitian
1.6. Metode Pengumpulan Data
1.7. Sistematika Penulisan
1.8. Jadwal Rencana Kegiatan
2. Tahap Pelaksanaan.
2.1. Pengumpulan Data
2.2. Pengolahan Data
2.3. Analisis Data
2.4. Penafsiran Hasil Analisis Data
3. Tahap Pembuatan Laporan Penelitian
Ada 3 golongan pembaca laporan
penelitian, yaitu :
1. Kalangan Akademisi
2. Sponsor Penelitian
3. Masyarakata Umum (biasanya dalam
bentuk ringkasan)
1.
kesesuaian jurnal dalam kaidah penulisan jurnal:
- (JURNAL 1): Pada kaidah penulisan jurnal tersebut telah sesuai karena adanya latar belakang pembuatan jurnal, perumusan dan batasan masalah, tujuan pembuatan jurnal, metode yang digunakan, hasil dari penelitian, serta kesimpulan.
- (JURNAL 2) dan (JURNAL 3): Pada kaidah penulisan jurnal, jurnal ini kurang adanya perumusan dan batasan masalah serta tujuan penulisan, melainkan adanya tinjauan pustaka.